Setelah meraih juara Liga Indonesia I 1994-1995, prestasi Persib mulai
menurun. Akan tetapi, dalam kompetisi internasional prestasinya cukup
mengesankan karena sempat berlaga sampai perempat final Piala Champion
Asia. Namun di tanah air Persib harus merelakan trofi Piala Liga
Indonesia jatuh ke tangan saudara se-kota Tim Mastrans Bandung Raya yang
akhirnya menjadi juara Liga Indonesia II.
Ternyata perjalanan
Persib dalam mengarungi Liga Indonesia tidak berjalan sesuai yang
diharapkan. Meski perombakan di tubuh Persib kerap terjadi, belum juga
menuai hasil maksimal, bahkan Persib sempat terancam terdepak dari
kompetisi Liga Indonesia karena kerap di posisi papan bawah. Pada Liga
Indonesia VII/2001 diarsiteki pelatih Indra Thohir dan Deny Syamsudin,
Persib bisa lolos ke babak “8 Besar” di Medan, tetapi akhirnya gagal ke
semifinal. Pergantian pelatih pun dilakukan termasuk dengan mendatangkan
dari Polandia, Marek Andrejz Sledzianowski pada Liga Indonesia IX/2003.
Namun, Marek Sledzianowski tidak seberuntung seniornya, Marek Janota.
Sledzianowski diganti di tengah jalan karena Persib terseok-seok di
papan bawah. Untuk menghindari jurang degradasi, pengurus Persib
mendatangkan pelatih asing asal Cile, Juan Antonio Paez. Upaya ini
berhasil dan Paez dipertahankan hingga Liga Indonesia X/2004.
Pada
Liga Indonesia XI/2005, Indra Thohir kembali dipanggil. Namun, Persib
harus puas di peringkat lima. Kompetisi berikutnya, Risnandar Soendoro
dipercaya menjadi pelatih. Namun, dia hanya bertahan hingga dua
pertandingan awal kandang setelah kalah dari PSIS dan Persiap di Stadion
Siliwangi Bandung dan posisinya diganti Arcan Iurie Anatolievici.
Pelatih asal Moldova itu kembali dipertahankan untuk menukangi Persib
pada Liga Indonesia XIII 2007. Saat itu, Persib sudah diprediksi bakal
meraih gelar juara karena pada paruh musim tampil sebagai pemuncak
klasemen Wilayah Barat dan memenangkan duel dengan PSM sebagai pemuncak
klasemen Wilayah Timur.
Akan tetapi, pada putaran kedua, Persib
terpeleset dan prestasinya menurun sehingga menempati peringkat kelima
dan gagal lolos ke babak “8 Besar”. Pada Kompetisi Liga Super Indonesia
I/2008-2009 untuk kali pertama Persib diracik pelatih dari luar Bandung.
Jaya Hartono (Medan), yang membawa Persik Kediri menggondol Piala LI
IX/2003 dipanggil untuk meracik Persib. Sayangnya, Persib harus puas
menempati peringkat tiga dalam kompetisi yang menggunakan format satu
wilayah itu. Pada Liga Super Indonesia II/2009-2010, Persib yang masih
ditangani Jaya Hartono kemudian diganti asistennya Robby Darwis pada
putaran kedua kompetisi hanya menempati peringkat keempat klasemen akhir